Kamis, 04 Oktober 2012

prinsip dan tujuan management


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
                  Dalam suatu manajemen, terdapat prinsip-prinsip manajemen yang dijadikan sebagai acuan dalam menjalankan suatu organisasi. Setiap manajer harus memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip manajemen ketika mengimplementasikan tugas dan tanggung jawabnya. Karena dengan prinsip manajemen tersebut akan mendukung kesuksesan manajer dalam meningkatkan kinerjanya.
                  Dengan menggunakan prinsip manajemen, manajer dapat menghindari kesalahan- kesalahan dalam menjalankan pekerjaannya, dan kepercayaan pada diri sendiri pun akan semakin besar, paling tidak dengan prinsip tersebut manajer dapat mengurangi ketidak benaran dalam pekerjaannya.
                  Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Prinsip sifatnya permanen, umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan “intisari” kebenaran-kebenaran dasar dalam bidang ilmu tersebut.

1.2  Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apakah prinsip-prinsip dari manajemen itu ?
2.      Untuk mengetahui apakah tujuan dari manajemen itu ?

1.3  Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup dari makalah ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip manajemen dan tujuan-tujuan dari manajmen.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Prinsip Manajemen
                  Prinsip manajemen adalah dasar-dasar atau pedoman kerja yang bersifat pokok yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manajer atau pimpinan. Dalam prakteknya harus diusahakan agar prinsip-prinsip manajemen ini hendaknya tidak kaku, melainkan harus luwes, yaitu bisa saja diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Prinsip-prinsip manajemen terdiri atas :
1.      Pembagian kerja yang berimbang. Dalam membagi-bagikan tugas dan jenisnya kepada       semua kerabat kerja, seorang manajer hendaknya bersifat adil, yaitu harus bersikap sama         baik dan memberikan beban kerja yang berimbang.
2.      Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas. Setiap kerabat        kerja atau karyawan hendaknya diberi wewenang sepenuhnya untuk melaksanakan          tugasnya dengan baik dan mempertanggung jawabkannya kepada atasan secara langsung.
3.      Disiplin adalah kesedian untuk melakukan usaha atau kegiatan nyata (bekerja sesuai          dengan jenis pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya) berdasarkan rencana,    peraturan dan waktu (waktu kerja) yang telah ditetapkan.
4.      Kesatuan perintah, setiap karyawan atau kerabat kerja hendaknya hanya menerima satu     jenis perintah dari seorang atasan langsung (mandor atau kepala seksi atau kepala bagian), bukan dari beberapa orang  yang sama-sama merasa menjadi atasan para karyawan atau kerabat kerja tersebut.
5.      Kesatuan arah, kegiatan hendaknya mempunyai tujuan yang sama dan dipimpin oleh         seorang atasan langsung serta didasarkan pada rencana kerja yang sama (satu tujuan,    satu rencana, dan satu pimpinan).
      Jika prinsip ini tidak dilaksanakan maka akan timbul perpecahan diantara para kerabat kerja atau karyawan. Karena ada yang diberi tugas yang banyak dan ada pula yang sedikit, padahal mereka memiliki kemampuan yang sama (Dayat,n.d,pp.7-9).
Manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui kerja orang lain. Dengan demikian berarti dalam manajemen terdapat minimal 4 (empat) ciri, yaitu:
1.      Ada tujuan yang hendak dicapai
2.      Ada pemimpin (atasan)
3.      Ada yang dipimpin (bawahan)
4.       Ada kerja sama

2.2 Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)
                        Istilah manajemen berdasakan sasaran pertama kali dipopulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan oleh Peter Drucker. Sejak itu, MBO (managemen by objective) telah memacu banyak pengkajian, evaluasi, dan riset. MBO merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahap tujuan organisasi. Dengan MBO dilakukan proses tujuan bersama antara atasan dengan bawahan. Manajer tingkat atas bersama-sama menentukan tujuan unit kerja agar serasi dengan tujuan organisasi. Tujuan organisasi adalah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya.
                        Pada setiap tingkat organisasi diperlukan komitmen para manajer pada pencapaian sasaran perseorangan dan sasaran organisasi secara efektif. MBO mempunyai siklus atau proses, yang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Identifikasi tujuan, tanggung jawab, dan tugas- tugas
2.      Pengembangan standar prestasi (performance)
3.       Pengukuran dan penilaian prestasi.
                        MBO merupakan sistem yang mengandung berbagai unsur. Menurut Reddin, sistem MBO ini dapat efektif jika mengandung unsur- unsur:
1.      Komitmen pada program, artinya keterlibatan setiap tingkat manajer sangat dibutuhkan karena MBO membutuhkan banyak waktu dan tenaga.
2.      Penentuan sasaran pada tingkat puncak, artinya manajer puncak yang menetapkan terlebih dahulu tujuan pendahuluan setelah berkonsultasi dengan anggota organisasi. Perencanaan yang efektif biasanya dimulai dari Top leader, sasaran harus operasional dan dapat diukur agar manajer bawah mempunyai gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang diharapkan oleh manajer puncak dan dapat melihat bagaimana hubungan pekerjaan yang mereka lakukan dengan pencapaian tujuan organisasi.
3.      Sasaran individu maksudnya penentuan tujuan setiap tingkat untuk membantu para karyawan apa yang diharapkan dari mereka. Hal ini membantu setiap individu secara efektif untuk mencapai sasaran yang ditargetkan. Peran serta aktif semua tingkatan manajer sangat menentukan tercapai tidaknya sasaran. Semakin besar peran serta manajer dalam menentukan sasaran semakin besar pula kemungkinan mencapainya.
4.      Otonomi dalam pelaksanaan rencana, artinya setiap individu mempunyai keleluasaan memilih sarana untuk mencapai sasaran. Demikian pula setiap manajer harus mengembangkan dan melaksanakan program untuk mencapai sasaran.
5.       Penilaian prestasi, artinya harus ada evaluasi yang dilakukan secara terprogram untuk menilai kemajuan menuju sasaran. Penilaian harus didasarkan pada prestasi yang dapat diukur, bukan atas dasar kriteria subjektif.
6.      Peran serta aktif semua tingkatan manajer sangat menetukan tercapai tidaknya sasaran. Semakin besar peran serta manajer dalam menentukan sasaran semakin besar pula kemungkinan mencapainya.

                        Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS) memiliki keunggulan dan  kelemahannya masing-masing yaitu :
1.      Keunggulan dari MBO (Managemens By Objectivitas), yaitu :
a.       Pengelolaaan cenderung lebih baik karena keharusan membuat program.
b.      Peranan dan fungsi struktur organisasi harus jelas.
c.       Individu mengikat diri pada tugas–tugasnya.
d.      Pengawasan lebih efektif berkembang.
e.       Meningkatkan komunikasi antara manajer dan bawahan.
f.       Memungkinkan para individu mengetahui apa yang diharapkan dari mereka
g.      Membantu dalam proses perencanaan dengan membuat para manajer menetapakan tujuan dan sasaran.
h.      Memperbaiki komunikasi antara manajer dan bawahan.
i.        Membuat individu lebih memusatkan perhatiannya pada tujuan organisasi.
j.        Membuat proses evaluasi lebih dapat disamakan melalui pemusatan pada pencapaian tujuan tertentu.
2.       Kelemahan dari MBO (Managemens By Objectivitas), yaitu :
a.       Tidak mudah menanamkan pemahaman tentang konsep-konsep dan pemberian motivasi kepada bawahan untuk mempelajari penggunaan teknik MBO secara tepat.
b.      Tidak mudah menentukan tujuan dengan memberikan kesempatan kepada para anggota untuk berpartisipasi.
c.       Tidak mudah menilai prestasi kerja, karena tidak setiap prestasi dapat diukur secara dikuantifikasikan.
d.      Perubahan yang diinginkan MBO dalam perilaku manajer kemungkinan akan menimbulkan masalah dalam proses MBO titik berat akan bergeser dari menilai menjadi membantu bawahan.
e.       Kelemahan-Kelemahan yang melekat (inherent) mencakup konsumsi waktu dan usaha yang cukup besar dalam proses belajar untuk menggunakan teknik-teknik MBO, serta meningkatkan banyaknya kertas kerja
f.       Menyangkut masalah pokok yang harus dikendalikan agar program MBO sukses :
1.      Gaya dan dukungan manajemen
2.      Penyesuaian dan perubagan MBO
3.      Keterampilan-keterampilan antar pribadi
4.      Deskripsi jabatan
5.      Penetapan dan pengorganisasian tujuan
6.      Pengawasan metoda pencapaian tujuan
7.      Konflik anatara kreativitas dan MBO

2.3  Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang
                  Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi.
                  Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan ekternal dan internal membawa implikasi terhadap perubahan dan kelompok dan wilayahnya.
Manajer pada umumnya bekerja pada lingkungan yang selalu berubah. Perubahan perilaku 
dan perubahan organisasi  merupakan bagian esensial  dari  manajemen  inovasi sebagai  dampak globalisasi di berbagai bidang kehidupan. Dalam prinsip manajemen berdasarkan orang dibagi menjadi :


1.      Hakikat Perubahan
            Perubahan adalah suatu proses yang menjadikan sesuatu atau situasi yang berbeda dengan yang sudah ada. Perubahan itu bisa terjadi pada orang, pada struktur, dan teknologi. Perubahan mempunyai tujuan yang sifatnya penyesuaian diri dengan lingkungan agar tujuan organisasi sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat.
Perubahan yang terjadi pada organisasi melibatkan berbagai komponen, misalnya tujuan, strategi, manusia, struktur, dan teknologi yang saling berkaitan erat, sehingga perubahan pada suatu komponen harus diikuti dengan perubahan pada komponen lainnya.

2.      Proses Perubahan
            Dalam kenyataannya, proses perubahan itu tidak selamanya lancar. Banyak hal yang memungkinkan perubahan  mengalami berbagai hambatan. Menurut teori Kekuatan Medan dari Kurt Lewin (James F. Stoner,1985) setiap prilaku merupakan hasil keseimbangan antara kekuatan pendorong dengan kekuatan penolak. Kekuatan pendorong dan kekuatan penolak bergerak kearah yang berlawanan. Kurt Lewin melihat bahwa individu mengalami dua hambatan utama melakukan perubahan, yaitu :
a.       Tidak bersedia mengubah prilaku yang sudah mapan.
b.      Perubahan hanya dalam waktu singkat (kembali ke pola prilaku utama).
Untuk mengatasi hal itu Lewin mengembangkan sebuah model proses perubahan yang terdiri dari tiga langkah, yaitu :









 Tahap Pencarian
 








Tahap Pengubahan
 
 








 Tahap Pembekuan
 




Keterangan      :
a.       Tahap Pencairan
Tahap pencairan mencangkup upaya membuat kebutuhan akan perubahan secara gamblang sehingga individu, kelompok, atau organisasi dapat dengan mudah memahami dan menerima perubahan.
b.      Tahap Pengubahan
Tahap pengubahan atau tindakan pemodifikasian organisasi yang membutuhkan agen perubahan yang terlatih untuk membantu perkembanga nilai, sikap dan prilaku baru selama proses pengidentifikasi nilai dan internalisasi.
c.       Tahap Pembekuan
Tahap pembekuan berarti mengukuhkan pola prilaku baru (refreezing) melalui mekanisme pendukung atau penguat, sehingga menjadi norma baru. Pada tahap ini, data dan informasi umpan balik merupakan aspek penting untuk mengevaluasi dan lebih menyempurnakan tindakan perubahan.

3.      Teknik Perubahan
            Salah satu teknik yang sering digunakan dalam OD adalah Sensitivity Training atau latihan kepekaan. Latihan kepekaan adalah suatu interaksi dalam kelompok kecil yang terjadi dalam suasana yang tertekan, sehingga menuntut setiap orang untuk peka terhadap perasaan orang lain sebagai usaha untuk menciptakan kegiatan kelompok yang memadai. Dalam suasana seperti ini, mereka didorong untuk melakukan penilaian mengenai konsepsi diri sendiri (selft concept) dan usaha untuk mau mendengar pendapat dan merasakan perasaan orang lain.
            Selanjutnya Campbel dan Dunnete yang dikutip dari Ducan (dalam Adam Ibrahim. 1983) mengemukakan enam butir hasil yang diharapkan dari latihan kepekaan yaitu :
a.       Meningkatkan pengertian, pemahaman, dan kepekaan terhadap prilaku sendiri.
b.      Meningkatkan pengertian dan kepekaan terhadap prilaku orang lain.
c.       Lebih mengerti dan memahi proses yang terjadi dalam antar kelompok.
d.      Meningkatkan keterampilan dalam mengadakan diagnosis situasi yang terdapat dalam kelompok.
e.       Meningkatkan kemampuan untuk menerjemahkan apa yang dipelajari kedalam bentuk tindakan nyata.
f.       Meningkatkan kemampuan mengadakan hubungan antar manusi, sehingga dapat berinteraksi lebih menyenangkan dan memuaskan.

2.4  Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi
                  Perencanaan pengorganisasian, pemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan. Semua kegiatan tersebut membutuhkan informasi. Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu system informasi manajemen (Managemen Information System atau MIS) yaitu suatu system yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur. Informasi ini dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan serta hasil-hasil yang dicapai.

2.5  Fungsi Manajemen Pendidikan
                  Manajemen sebagai suatu proses pelaksanaan administrasi dalam suatu instansi, merupakan aktifitas yang continuou (terus-menerus) mulai dari perencanaan sampai penilaian. Dalam proses pelaksanaannya manajemen pendidikan mempunyai tugas-tugas yang harus diselesaikan, dalam manajemen kita kenal sebagai fungsi. Adapun fungsi administrasi antara lain adalah :
a.       Fungsi organik yaitu semua yang mutlak harus dikerjakan oleh administrator atau manajer.
b.      Fungsi pelengkap yaitu semua fungsi meskipun tidak mutlak dijalankan oleh organisasi, sebaiknya dilaksanakan, karena pelaksanaan fungsi itu dengan baik akan meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan tujuan yang efisien, ekonomis dan efektif.[1]
Fungsi manajemen dalam hal ini menurut Prof. Dr. Oteng Sutisna dan Ngalim Purwanto yang membagi fungsi manajemen meliputi :
1.      Perencanaan
            Perencanaan adalah suatu proses rangkain aktifitas untuk menetapkan terlebih dahulu tentang tujuan yang diharapkan atau suatu jangka waktu tertentu atau periode waktu yang telah ditetapkan, serta tahapan-tahapan yang harus  dilalui untuk mencapai tujuan. Seorang manajer harus melakukan aktifitas-aktifitas dalam perencanaan antara lain : prakiraan ( forecasting ), penetapan tujuan (establishing objective), pemrograman (programming), penjadwalan (scheduling), penganggaran (budgeting), pengembangan prosedur (developping prosedure), penetapan, dan penafsiran kebijakan (establishing and interpriting policies).
            Perencanaan pendidikan harus pula memperhatikan azas-azas yang menjamin kualitas, sifat-sifat perencanaan, sumber-sumber perencanaan, dan fungsi perencanaan. Jadi tanggung jawab perencanaan pendidikan tidak hanya terletak pada manajer tetapi juga pada kekompakan dari masing-masing yang terkait.
2.      Pengorganisasian
            Pengorganisasian adalah suatu proses dan rangkain aktifitas dalam pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar pekerjaan yang efektif diantara mereka, dan pemberian iklim serta fasilitas pekerjaan yang wajar, sehingga mereka bekerja secara efisien.
            Agar terkoordinasi dengan baik dalam menyusun kerja sama, maka perlu memperhatikan prinsip-pinsip antara lain:
a.                   Kesatuan tujuan
b.                  Kedayagunaan
c.                   Rentang manajemen
d.                  Adanya mata rantai berjenjang
e.                   Tanggung jawab
f.                   Dwi tunggal wewenang dan tanggungjawab
g.                  Kesatuan perintah
h.                  Tingkatan wewenang
i.                    Pembagian pekerjaan
j.                    Kejelasan fungsi
k.                  Azas keseimbangan
l.                    Keluwesan
m.                Azas kesinambungan
n.                  Azas kemudahan kepemimpinan.[2]

i.            Mengkordinasikan Kerja
                  Fungsi koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan dari kegiatan-kegiatan yang terpisah disuatu organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien. Tujuan koordinasi adalah menyatukan, integrasi dan sinkronisasi dalam proses manajemen dan berjalan menurut rencana tepat dan efektif.

ii.            Pengkomunikasian
Komunikasi adalah proses penyaluran informasi, ide, penjelasan, pertanyaan dari orang-orang dan kelompok-kelompok dalam suatu organisasi.
Ada empat alasan yang mengharuskan adanya komunikasi dalam organisasi antara lain:
1. Adanya kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian
2. Memperoleh infomasi
3. Menguatkan keyakinan tentang jalan yang ditempuh oleh organisasi
iii.            Mempergunakan wewenang fungsional.[3]
a.       Pengawasan
            Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pelayanan proses manajemen pendidikan, maka diperlukan adanya pengawasan. Tanpa pengawasan akan sulit mengetahui program yang belum dilaksanakan sama sekali. Dengan pengawasan yang seksama dapat ditemukan kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan, kesalahan dalam bekerja untuk menggunakan media  dan sebagainya. Selain itu pengawasan merupakan suatu tindakan pencegahan, tindakan yang bersifat prefentif.[4] Tindakan pengawasan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.      Mengukur perbuatan.
2.      Membandingkan perbuatan dengan standart yang ditetapkan dan menetapkan perbedaan jika ada.
3.      Memperbaiki penyimpangan dengan tindakan pembenahan.
b.      Evaluasi
            Sebagai akhir dari suatu kegiatan, untuk mengetahui berhasil atau tidak, diperlukan adanya penilain atau evaluasi. Meskipun evaluasi merupakan akhir dari suatu program, namun bukan berarti setelah evaluasi kegiatan akan berakhir. Dengan evaluasi dimungkinkan bisa melahirkan rencana yang lebih sempurna. Strategi Manajemen Pendidikan Dalam Mengembangkan Pendidikan, pengembangan strategi manajemen pendidikan sangatlah penting bagi peningkatan mutu pendidikan. Hal ini dikarenakan banyaknya tuntutan yang harus dipenuhi oleh manusia dan semakin kompleksnya kehidupan. Dari sini,maka diperlukan pola-pola dan kiat-kiat manajemen pendidikan supaya dapat menjawab tuntutan tersebut.
            Adapun model manajemen telah didefinisikan dalam 10 mega-tren SIKDIKNAS yang kondusif meliputi:
1.                  Komponen pendidikan dasar
2.                  Komponen kurikulum
3.                  Komponen proses belajar
4.                  Komponen tenaga kependidikan
5.                  Komponen pendidikan dan latihan
6.                  Komponen pendidikan tinggi
7.                  Komponen pendidikan berkelanjutan
8.                  Komponen pembiayaan pendidikan
9.                  Komponen disentralisasi dan partisipasi masyarakat
10.              Komponen pengelolaan sisdiknas.[5]
                  Dikatakan oleh Soekarno K. bahwa supaya manajemen dapat mencapai tujuan sebaik-baiknya, sangatlah diperlukan adanya tools (sarana, alat dan unsur manajemen). Alat-alat manajemen pendidikan adalah:
1.      Men                 : Tenaga manusia digerakkan
2.      Money             : Dana yang diperlukan untuk mencapainya
3.      Methods         : Cara atau sistem untuk mencapai tujuan
4.      Material           : Bahan-bahan sebagai sumberdaya pendidikan yang mencapai tujuan                                   pendidikan.
5.      Machines        : Mesin-mesin yang siperlukan
6.      Market            : Pasaran, tempat untuk melempar hasil produksi.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
                  Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Prinsip sifatnya permanen, umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan “intisari” kebenaran-kebenaran dasar dalam bidang ilmu tersebut. Prinsip-prinsip dalam manajemen bisa dikatagorikan menjadi tiga yaitu : prinsip manajemen berdasarkan sasaran (MBS), prinsip manajemen berdasarkan informasi, prinsip manajemen berdasarkan orang.
                  Manajemen sebagai suatu proses pelaksanaan administrasi dalam suatu instansi, merupakan aktifitas yang continuou (terus-menerus) mulai dari perencanaan sampai penilaian. Dalam proses pelaksanaannya manajemen pendidikan mempunyai tugas-tugas yang harus diselesaikan, dalam manajemen kita kenal sebagai fungsi.
                  Fungsi koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan dari kegiatan-kegiatan yang terpisah disuatu organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien. Tujuan koordinasi adalah menyatukan, integrasi dan sinkronisasi dalam proses manajemen dan berjalan menurut rencana tepat dan efektif.

3.2  Saran
                  Saran kami sebagai penulis adalah hendaknya dalam sebuah manajemen setiap pelakunya harus menyelesaikan tugasnya dengan baik, dengan manajemen yang baik, pasti segala aktivitas yang berpengaruh terhadap manajemen itu, akan berjalan dengan baik pula.
                  Bagi pembaca, ilmu tentang manajemen itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kegiatan instansi mana pun, hendaknya pembaca selalu menambah ilmu mengenai manajemen.



Daftar Pustaka


Hedyat Soetopo.Prilaku Organisasi.Rodakarya.Bandung:2012
Hentinu Dja’far.Administrasi Pendidikan.Kopertais Wilayah IV IAIN Sunan Ampel.1990
Rifai M. Moh. Administrasi dan Suprvisi Pendidikan.Jemmars,Bandung:1982
Siagian,Sondang P. Filsafat Administrasi.Haji Masagung.Jakarta:1989
Suryadi.Manajemen Mutu Berbasis Sekolah.PT.Sarana Panca Karya Nusa.Bandung:2009


[1] . Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Haji Masagung, Jakarta, 1989, hal 102-103
[2] . Dja’far Hentinu, administrasi pendidikan, Kopertais Wilayah IV IAIN Sunan Ampel, 1990, hal. 12
[3] . Sondang P. Siagian, Op.Cit, hal. 128
[4] . M. Moh. Rifai, Administrasi dan Suprvisi Pendidikan, Jemmars, Bandung, 1982, hal. 11
[5] . H. A. R. Tilaar, Op. Cit, hal. 182-186

0 komentar:

Poskan Komentar